Jumat, 04 April 2025

Minggu, 25 Agustus 2019

Sultan Nuku Tidore Berjuang 25 Tahun Menghadapi Penjajahan Belanda

Sultan Nuku Muhammad Ammiruddin
Kesultanan Tidore yang berpusat di Tidore, Maluku Utara adalah salah satu dari kerajaan di Indonesia yang ikut berjuang menentang penjajahan Belanda, Kesultanan ini pernah berjaya dari masa Abad 16 dan Abad 18.

Pada saat itu kekuasaan Kesultanan Tidore sangat luas, dari Tidore sampai Kepulauan Halmahera, Pulau Buru, Pulau Seram, Papua Barat dan Kepulauan di Raja Ampat..

Perjuangan menghadapi Belanda yang paling gigih pada masa Sultan Nuku Muhamad Amiruddin putra dari Sultan Jamaluddin yang berkuasa dari tahun 1757 sampai tahun 1779 M.

Nuku Muhamad Amiruddin pada awalnya adalah sebagai Panglima Perang atau yang disebut juga sebagai Jou Barakati walaupun beliau adalah seorang putra mahkota anak dari Sultan Jamaluddin.

Awal dari bibit pertempuran dengan Belanda karena seperti tabiat Belanda di seluruh wilayah jajahannya di Nusantara, Belanda senantiasa turut campur dalam politik dalam negeri kerajaan-kerajaan di Indonesia. Belanda juga selalu menggunakan devide et impera untuk menjatuhkan salah satu pihak dalam sengketa kerajaan di Nusantara.

Ini juga yang menjadi cikal bakal perlawanan Panglima Perang Nuku dengan Belanda. Belanda selalu menempatkan orang-orang yang bisa diajak bekerjasama untuk menjadi pewaris dari tahta kerajaan yang ada diwilayah jajahannya. Sedangkan figur yang bertentangan akan dihukum dan diserang, walaupun pewaris sah kerajaan yang resmi.

Politik seperti ini pun yang digunakan Belanda pada Kesultanan Tidore. Ayah kandung Pangeran Nuku yang memegang tahta Sultan Jamaluddin bertentangan dengan Belanda sehingga dianggap berbahaya bagi politik penjajahan Belanda. Akhirnya Sultan Jamaluddin diperangi dan ditangkap, kemudian diasingkan ke tempat yang jauh dari pengarunya, yaitu ke Batavia. Pengasingan Sultan Jamaluddin ini terjadi pada 1779 M.

Belanda terus menanamkan pengaruhnya di Tidore dengan mengangkat Kaicil Gay Jira pada tahun 13 April 1779 yang merupakan orang kepercayaan Belanda yang sebenarnya tidak berhak untuk mendapatkan tahta Kesultanan Nuku. Seharusnya sesuai tradisi tahta harus dipegang oleh Sultan Nuku yang merupakan anak dari Sultan Jamaluddin.

Tindakan Belanda ini telah membuat sakit hati rakyat Tidore yang mencintai rajanya. Tindakan Belanda ini juga ditentang oleh Nuku Muhammad Amiruddin dan juga adiknya Kamaluddin karena dianggap telah menginjank-injak tradisi Kesultanan Tidore.

Pada riwayat selanjutnya Kaicil Gay Jira sudah mulai menunjukkan ketidakpatuhannya terhadap Belanda, sehingga di copot dan tahta di berikan kepada Patra Alam pada tahun 1757 untuk menjadi Sultan Tidore pada wilayah lama yang berada dibawah pengaruh VOC Belanda.

Interpensi dan arogansi Belanda ini benar-benar sudah membuat rakyat Tidore muak. Berbagai perdagangan rempah-rempah Belanda di Maluku Utara di ganggu dan dihadang oleh rakyat. Rakyat Tidore lebih menginginkan Kesultanan Tidore kembali kepada Sultan Nuku.

Kapal dagang VOC Belanda tidak bisa masuk ke wilayah Maluku bagian Selatan dan ke wilayah Kepulauan Seram, Halmahera dan Papua karena berada dibawah pengaruh Kesultanan Tidore - Sultan Nuku.

Benteng Kesultanan Tidore  yang dibawah pengaruh Panglima Perang Nuku yang disebut sebagai Jou Barakati oleh rakyat Tidore. Benteng tersebut dibangun di Kepulauan Seram Timur dan Kepulauan Gorong. Di benteng ini juga Kesultanan Tidore yang semula diperang oleh Sultan Kamaludin diserahkan kepada Panglima Perang Nuku yang kemudian naik tahta dan menjadi Sultan Tidore pada tanggal 13 April 1779.

Dari wilayah barunya ini Sultan Nuku Muhammad Amiruddin terus melakukan penggalangan untuk melawan penjajahan Belanda yang dianggap semakin menjadi-jadi. Bersama rakyat Sultan Nuku membuat banyak kapal yang dilakukan dipulau-pulau yang jauh dari pengamatan Belanda. Kapal-kapal perang Sultan Nuku ini disebut dengan Kora-Kora.

Pada tahun 1981 Sultan Nuku juga membangun benteng pertahanan di sekitar Pulau Seram dan Papua Barat yang dijadikan basis pertahanan. Benteng pertahanan utama ini didukung juga oleh benteng-benteng kecil yang tersebar di pesisir-pesisir pantai. Sultan Nuku juga melakuykan kerjasama dengan Inggris yang pada waktu itu juga ingin mendapatkan konsesi dagang rempah-rempah di Maluku. Inggris banyak memberikan meriam-meriam untuk basis pertahanan di benteng utama dan juga benteng-benteng pesisir di wilayah Kepulauan Seram dan Papua.

Untuk mempersulit Belanda masuk ke wilayah Seram. Sultan Nuku juga menyebarkan ranjau laut disekitar benteng-benteng. Kapal-kapal perang kecil juga dibangun, selain itu Sultan Nuku juga membuat rakit-rakit mengangkut meriam yang ada pada jalur perlintasan dari wilayah air Tidore ke arah pulau-pulau Seram.

Aktifitas Sultan Nuku ini membuat Belanda marah dan Belanda menyerbu Seram timur yang dianggap menjadi titik lemah, akhirnya kepulauan di Seram Timur jatuh ketangan Belanda. Tetapi Belanda masih belum mampu untuk masuk ke Kepulauan sekitar Pulau Gorong yang masih kuat.

Sultan Nuku memfokuskan seluruh kekuatannya untuk berada di Kepulauan sekitar Pulau Gorong. Perangkat perang Sultan Nuku dan meriam-meriam besar yang tersebar di sekitar Pulau Garong banyak menenggelamkan kapal-kapal Belanda. Kapal-kapal kecil yang bergerak lincah dengan bersenjata meriam sangat ditakuti oleh Kompeni Belanda. Belanda berada pada titik lemah dan berusaha untuk mengontak dan meminta Bantuan kapal perang dari Batavia. Karena jarak yang jauh bantuan tidak kunjung datang.

Belanda yang terdesak berusaha mengontak Sultan Nuku untuk bekerjasama dan mengakui kekuasaan Sultan Nuku, tetapi Sultan Nuku menolak karena tujuan perjuangannya bukanh hanya untuk mendapatkan sekedar pengakuan dari Belanda tetapi untuk mengusir penjajah Belanda dari wilayah Maluku.

Kesempatan ini digunakan oleh Sultan Nuku untuk menekan dan menyerang Belanda. Belanda melepaskan Seram Timur dengan mudah dan kembali ke Tidore.  Kemudian serangan besar Sultan Nuku terus dilakukan untuk membebaskan tanah air Tidore, akhirnya pada tahun 1796 Belanda kalah dan tekuk lutut ke Sultan Nuku di Tidore.

Kekuatan pasukan bahari Kesultanan Tidore semakin kuat dan semakin ditakuti oleh Belanda yang masih bercokol di Ternate. Perjuangan Sultan Nuku masih berlanjut pada tanggal 29 April 1798 pasukan Kesultanan Tidore dikerahkan untuk membebaskan Ternate dari tangan VOC Belanda.

Pada masa itu Belanda menguasai benteng yang pernah dimiliki oleh Kesultanan Ternate, yaitu Benteng Kalamata. Benteng ini awalnya di bangun oleh Portugis dengan nama Benteng Santa Lucia pada tahun 1540.  Karena Perjanjian Tordesillas 1494 antara Portugis dan Spanyol akhirnya benteng tersebut ditinggalkan dan kemudian diambil alih oleh Kesultanan Ternate yang memiliki kerjasama dengan Portugis.

Pada masa Kesultanan Ternate di ganti namanya menjadi Benteng Kalimata.  Di pegang VOC-Belanda diganti nama menjadi Benteng Kalamata Kasteel. Benteng ini terkenal terkuat di wilayah Timur, tepatnya berada di Ternate Selatan. 

Sultan Nuku menggunakan kapal-kapal besar dengan meriam besar untuk menghancurkan beton-beton benteng Kalamata yang kuat. Pertempuran itu berlangsung sangat alot dan lama VOC Belanda mempertahankan benteng tersebut dengan gigih karena merupakan basis Belanda di wilayah timur.

VOC Belanda benar-benar terjebak dalam benteng dan ini hampir selama tiga setengah tahun lamanya, dengan kondisi perbekalan dan senjata yang semakin menipis. Akhirnya pada awal tahun 1801 benteng tersebut jebol dan pasukan Kesultanan Tidore dapat masuk dengan mudah karena kekuatan tentara dan perbekalan Belanda yang lemah.

Sultan Nuku disebut sebagai penyatu antara Tidore dan Ternate yang sama-sama melawan penjajahan Belanda. Pada masa Sultan Nuku berkuasa di Tidore dan Ternate membawa wilayah Maluku tetap merdeka dari pengaruh penjajahan manapun.

Sultan Nuku terkenal cerdas dan cerdik sehingga upaya Inggris untuk  mendapatkan konsesi wilayah gagal total, Inggris hanya mendapatkan akses perdagangan internasional yang tidak istimewa.  Pengaruh Kesultanan Tidore dan Ternate sangat kuat sehingga upaya Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris selalu dapat direduksi..

Dalam masa damai yang bebas, merdeka dan berjaya pada usia 67 tahun akhirnya Sultan Nuku Muhammad Ammirudin pada tanggal 14 November 1805 meninggal dunia sebagai Pahlawan yang mampu membebaskan Maluku dari penjajahan Eropa.

Sultan Nuku yang diberi gelar Pahlawan Nasional ini dimakamkan di Tidore tepatnya  daerah Soa Sio. Soa Sio di masa lalu adalah sebuah kawasan Kedaton Sultan Tidore yang saat ini menjadi Ibu Kota Kabupaten Tidore Kepulauan. Tempat ini sekarang menjadi Cagar Budaya bagi daerah setempat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar